Paradigma Teori ELT


Paradigma ELT Modern

Dalam dunia pendidikan khususnya dalam ELT (English Language Teaching) implementasi teori dalam sebuah sistem pengajaran sangat mempengaruhi hasih yang ingin dicapai. Dengan semakin berkembangnya dunia ELT, kita banyak melihat teori-teori baru yang dinilai cocok untuk menghadapi kompleksitas siswa-siswa ELT. Sesuai dengan Konsep ELT modern, bahwa teori-teori yang modern memfokuskan titik berat pengajaran pada siswa (student-centered learning). Hal ini menuntut siswa-siswa mampu menyelesaikan setiap pemasalahan yang ada.

Contoh:

Teori : Quantum Learning

Materi : Weather

Aktivitas pengajaran:  siswa akan langsung terjun kelapangan untuk mensimulasikan beberapa hal tentang cuaca, jenis-jenis cuaca dan hal-hal yang muncul saat cuaca tertentu. Diskusi-diskusi panel pun sering terjadi dikelas untuk lebih menekankan pada pencapaian materi.

INti Pengajaran : Penanaman motivasi positif terhadap siswa untuk lebih memahami materi lewat class-outside learning

Paradigma Teori klasik ELT

Rata-rata Teori-teori klasik pada ELT lebih banyak menekankan proses pengajaran pada teacher-centered learning. Dimana peran guru tak terbantahkan dan absolut. Teori-teori klasik sebenarnya amat sangat positif bila kita terjemahkan pada siswa-siswa yang memiliki tingkat kenakalan yang cukup tinggi. Tentu saja akan sedikit divariasikan dengan teori-teori ELT modern. Konsep dari teori ELT klasik adalah guru sebagai pribadi yang harus ditiru dan harus mempunyai kharisma didepan para siswa. Kita bisa melihat pada apa yang terjadi pada ELT pada era 90an. Dimana ketegasan seorang guru benar-benar membuat kelas menjadi sunyi dan hening. Pada akhirnya membuat citra elegan dan ditakuti pada seorang guru ELT. Mengapa harus ditakuti? kita bisa melihat saat ini, seorang guru yang terlalu terfokus pada konsep ELT modern hanya akan menjadi bulan-bulanan siswa yang memiliki tingkat kenakalan diatas rata-rata. GUru yang lebih banyak menekankan pada penumbuhan motivasi, pada akhirnya hanya akan menemukan bahwa dia tidak sedang memotivasi siapa-siapa. Fenomena ini bisa kita lihat pada pengajaran ELT di Indonesia. Dimana bisa kita lihat minat siswa sendiri terhadap Bahasa inggris sangat rendah.  Pada Akhirnya guru-guru di indonesia jarang menggunakan teori tertentu untuk  mengajar dan hanya terfokus dalam pembahasan soal-soal yang menjadi kisi-kisi  untuk ujian dan terjemahan bebas terhadap bacaan-bacaan tertentu. Fenomena seperti ini tidak bisa dipungkiri dalam sistem pengajaran. Karena pada dasarnya konsep ELT modern dibuat untuk siswa-siswa aktif dan “menurut”.

Akan tetapi hal ini akan menjadi tantangan untuk mengembangkan dan memodifikasi teori ELT yang ada dan sesuai dengan iklim siswa di Indonesia.

Saran penulis sendiri akan lebih menekankan pada konsep Quantum Learning yang lebih sesuai diterapkan untuk para siswa di Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s