Optimalisasi Pembelajaran Lewat Seating Arrangement


Kita perlu menyadari bahwa kesuksesan hasil belajar siswa bergantung pada banyak faktor, diantaranya adalah pengawasan guru, kompetensi guru, metode yang digunakan, serta motivasi siswa. Tidak dapat dipungkiri bahwa sebagian paradigma menganggap bahwa keberhasilan suatu proses pembelajaran amat sangat bergantung pada kecakapan seorang guru dalam mengatur kelas. Dalam kasus ini beban mental seorang guru yang hidup dalam paradigma seperti ini amatlah besar. Hal ini dapat disiasati dengan penggunaan metode yang tepat dan manajemen kelas yang baik.

Penggunaan Metode yang tepat dalam sistem pengajaran memang sangat dibutuhkan oleh para guru dalam menyampaikan materi. Telah banyak disinggung sebelumnya tentang metode-metode yang bisa diterapkan (lihat tulisan-tulisan saya sebelumnya). Akan tetapi, penggunaan metode yang paling briliant sekalipun akan sangat tidak berguna ketika fungsi pengawasan seorang guru sama sekali tidak berjalan dengan baik. Dalam hal ini salah satu faktor yang mempengaruhi fungsi pengawasan seorang guru adalah seating arrangement (susunan kursi). Dengan penentuan susunan kursi yang baik, seorang guru dapat dengan mudah mengontro aktivitas siswa dalam kelas dan mengoptimalkan komunikasi antar siswa.  Berikut jenis-jenis seating arrangement yang bisa diterapkan di kelas menurut Jeremy Harmer (2007: 40-42).

Orderly Rows

Pola seating arangement seperti ini merupakan status quo sekolah sekolah-sekolah. Dimana pola seating arrangement seperti ini memungkinkan interaksi antara guru dengan seluruh siswa dikelas dan siswa dapat dengan mudah memusatkan perhatian kepada guru.

Circles and Horseshoes

Pola ini bisa digunakan dalam ruang kelas yang jumlah siswanya tidak begitu besar,, akan tetapi bisa dimodifikasi sendiri oleh guru sesuai kebutuhan. Misalnya pada kelas yang jumlah siswanya ramai, bisa dijadikan dua circles atau horseshoes.

Separate Tables

Pada pola ini, guru bisa memindahkan beberapa meja untuk ditempati jumlah siswa tertentu. Bila pada dua penjelasan diatas lebih menitik beratkan pada diskusi antar siswa dan guru kurang formal, pada seating arrangement ini lebih banyak menekankan pada situasi yang lebih formal.

berikut keempat pola diatas yang disadur dari Jeremy Harmer (2007: 41)

Demikianlah semoga bisa dijadikan bahan acuan bagi pembaca semua dalam menyusun karya ilmiah atau referensi dalam mengajar.

Leave your comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s