Teori Behavioristik


Tidaklah mudah untuk memperoleh second/foreign language. Dalam konteks ELT (English Language Teaching) pembelajar diharapkan untuk mengerti kegunnaan dari konteks. Para pengajar (guru) diharapkan agar lebih profesional untuk menentukan metode ajar yang dianggap cocok berkaitan denga needs siswa. Salah satu pendekatan yang bisa dipakai adalah teori behavioristik. Pendekatan behavioristik berfokus pada aspek-aspek yang bisa ditangkap langsung dari perilaku linguistik-respons yang bisa diamati secara nyata- dan berbagai hubungan atau kaitan antara respon-respon itu dan peristiwa-peristiwa didunia sekeliling mereka (Brown, 2007: 28). Brown secara singkat menyatakan bahwa teori behavioristik menggunakan keseluruhan dari ucapan, perbuatan dan aktivitas siswa untuk memeperoleh tujuan dari ELT. Konsep ini bisa dikatakan merupakan adaptasi dari perilaku dan usaha seseorang dalam mengakuisisi bahasa ibu (mother tongue). Bisa dikatakan bahwa, seorang pembelajar tidaklah harus mempelajari sistem bahasa secara explisit melainkan secara implisit. Karena pengajaran sistem bahasa secara explisit hanya akan membuyarkan konsentrasi siswa akan tujuan dari ELT. Skinner (Brown, 2007: 29) mengatakan bahwa perilaku verbal, seperti perilaku lain, dikendalikan oleh konsekuensi-konsekuensi. Konsekuensi positif dapat berupa imbalan atau hadiah yang dapat diberikan ketika pembelajar telah melakukan kesepakatan dengan tujuan ELT. Dalam hal ini, Skinner tidak menyatakan bahwa hukuman (punishment) tidaklah dinutuhkan dalam konsep behavioristik, karena dalam hukuman ada suatu paksaan untuk melakukan sesuatu dan pada akhirnya akan membuat paradigma negatif terhadap ELT dan menghilangkan motivasi siswa. Konsep Behavioristik akan lebih menekankan pada pembahasan discourse dan praktek realitas. Dimana pada pembahasan discourse akan lebih banyak menekankan pada kreatifitas siswa dalam menelaah unsur-unsur bahasa dan ketepatan pada proses translation. Sedangkan praktek realita akan lebih banyak menekankan pada proses pemerolehan bahasa tujuan (destination language). Hal ini tentunya akan menjadi peringatan bagi para pengajar ELT yang selama ini lebih banyak menekankan pada punishment untuk mencapai tujuan ELT. Karena pengajar-pengajar yang seperti itu hanya akan merusak tujuan hakiki dari ELT di Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s